Sabtu, 11 April 2020 M
dikutip dari buku Piladang 1949
SEJARAHKITO.COM- Siapa sangka beberapa Pemuda berasal dari Piladang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bermain huru hara seraya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Sejarah pernah mencatat bahwa perjuangan pemuda Piladang pernah menghabiskan puluhan orang tentara belanda pada masa perang Agresi 1949 silam. Itu semua patut dikenang jasa para pemuda tersebut karena sudah berani membela Negara walaupun nyawa sebagai taruhan.
| Stasiun Kereta Api Payakumbuh zaman Belanda |
Selasa, 8 Februari 1949 Masehi kereta api yang penuh berisi tentara Belanda berangkat dari Bukit Tinggi menuju Payakumbuh. sekitar jam 13.30 WIB sewaktu kereta api tersebut kembali ke Bukit Tinggi sampai dijembatan Titih Padang Tarab pasukan tersebut digempur oleh segerombolan pemuda Nagari Piladang. Seorang pemuda dari Piladang tersebut mengintai dari jarak yang sangat dekat dan bersembunyi disemak belukar setelah memperkirakan bahwa penumpang yang adanya beberapa orang pengawal. Maka, pengawal yang bersenapan mesin dapat ditembak mati dengan mudah kemudian disusul dengan beberapa Granat ke atas Gerbong yang berisi tentara pengawal.
Lemparan Granat sempat mengenai sasaran sehingga seoarang dari tentara Belanda turun berlari menuju Lokomotif. Melihat keadaan demikian, Salah seorang Pemuda piladang langsung menebas lehernya dengan parang sehingga leher tentara Belanda itu terkulai dan diapun roboh ketanah dalam waktu seketika. Setelah itu pemuda-pemuda tersebut dihujani dengan peluru senapan yang tidak terarah oleh pasukan Belanda lainnya sehingga mereka mengambil langkah mundur untuk menyelamatkan diri. Tak tanggung-tanggung sedikitnya sebanyak 42 Orang pasukan Belanda tewas ditangan pemuda Piladang dan salah satunya adalah petinggi Tentara Belanda. Selain itu, Kereta api juga mengalami kerusakan dan pasukan tentara bergegas memperbaikinya. Beberapa waktu kemudian setelah kereta api itu sudah membaik, tentara belanda yang masih selamat tersebut meneruskan perjalananya ke Bukit Tinggi serta dikawal pakai kendaraan berlapis baja.
Karena dipihak Belanda tak sedikit korban yang tewas termasuk salah seorang petingginya, maka sekitar jam 17.00 WIB Belanda mengirimkan beberapa pasukan menggunakan pesawat tempur untuk melakukan pengintaian lewat jalur udara di atas kawasan Akabiluru. kemudian jam 17.20 Pasukan tentara Belanda melakukan kekejaman dan keganasannya kepada rakyat dengan melepaskan tembakan membabi buta dengan Hotwizer selama 45 menit secara terus-menerus. Sebelumnya rakyat sudah tahu bahwa penghadangan di Titih menimbulkan banyak Korban Jiwa dipihak belanda, maka rakyat telah bersiap dan waspada terhadap kedatangan serangan pembalasan dari pihak Belanda.
baca juga :
http://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/tigo-alua-piladang-dalam-memori-sejarah.html
https://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/mengenang-kembali-am-rasyid-saleh-sang.html
https://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/shalat-jumat-tetap-berlangsung-di.html
baca juga :
http://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/tigo-alua-piladang-dalam-memori-sejarah.html
https://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/mengenang-kembali-am-rasyid-saleh-sang.html
https://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/shalat-jumat-tetap-berlangsung-di.html
Untungnya serang yang bertubi-tubi dari Belanda tersebut tidak satupun yang sampai mengenai rakyat baik di Nagari Piladang, seberang Parit dan Titih. Tembakan tersebut hanya menyebabkan pohon-pohon tumbang dan terpotong-potong, jalanan berlubang dan seekor ternak mengalami luka ringan di Seberang Parit. Kejadian seperti ini tidak menyebabkan rakyat menjadi takut, malahan sebaliknya menimulkan masyarakat marah dan patriotisme yang sangat tinggi lebih-lebih pada kalangan Pemuda.
Keesokan harinya Rombongan Penerangan dari BPNK memberikan petunjuk kepada rakyat untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan ditempat pengungsian dan ditempat persembunyian yang dirasa aman dari pasukan tentara Belanda. sekitar jam 14.00 yaitu setelah kurang lebih lima jam BPNK memberikan pengarahan terhadap rakyat, tak lama kemudiaan rombongan tentara Belanda melepaskan tembakan disepanjang jalan raya mulai dari Titih sampai keperbatasan Piladang tepatnya di Ngalau Sampik, namun rakyat tetap dalam keadaan tenang* ISFHO YOUSE
Keesokan harinya Rombongan Penerangan dari BPNK memberikan petunjuk kepada rakyat untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan ditempat pengungsian dan ditempat persembunyian yang dirasa aman dari pasukan tentara Belanda. sekitar jam 14.00 yaitu setelah kurang lebih lima jam BPNK memberikan pengarahan terhadap rakyat, tak lama kemudiaan rombongan tentara Belanda melepaskan tembakan disepanjang jalan raya mulai dari Titih sampai keperbatasan Piladang tepatnya di Ngalau Sampik, namun rakyat tetap dalam keadaan tenang* ISFHO YOUSE


