PEMUDA PILADANG HANTAM TENTARA BELANDA, 42 ORANG TEWAS

Sabtu, 11 April 2020 M
dikutip dari buku Piladang 1949

SEJARAHKITO.COM- Siapa sangka beberapa Pemuda berasal dari Piladang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bermain huru hara seraya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Sejarah pernah mencatat bahwa perjuangan pemuda Piladang pernah menghabiskan puluhan orang tentara belanda pada masa perang Agresi 1949 silam. Itu semua patut dikenang jasa para pemuda tersebut karena sudah berani membela Negara walaupun nyawa sebagai taruhan.


https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c3/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_station_van_Pajakoemboeh_Sumatra%60s_Westkust_TMnr_60009217.jpg/250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_station_van_Pajakoemboeh_Sumatra%60s_Westkust_TMnr_60009217.jpg
Stasiun Kereta Api Payakumbuh zaman Belanda

Selasa, 8 Februari 1949 Masehi kereta api yang penuh berisi tentara Belanda berangkat dari Bukit Tinggi menuju Payakumbuh. sekitar jam 13.30 WIB sewaktu kereta api tersebut kembali ke Bukit Tinggi sampai dijembatan Titih Padang Tarab pasukan tersebut digempur oleh segerombolan pemuda Nagari Piladang. Seorang pemuda dari Piladang tersebut mengintai dari jarak yang sangat dekat dan bersembunyi disemak belukar setelah memperkirakan bahwa penumpang yang adanya beberapa orang pengawal. Maka, pengawal yang bersenapan mesin dapat ditembak mati dengan mudah kemudian disusul dengan beberapa Granat ke atas Gerbong yang berisi tentara pengawal.

Lemparan Granat sempat mengenai sasaran sehingga seoarang dari tentara Belanda turun berlari menuju Lokomotif. Melihat keadaan demikian, Salah seorang Pemuda piladang langsung menebas lehernya dengan parang sehingga leher tentara Belanda itu terkulai dan diapun roboh ketanah dalam waktu seketika. Setelah itu pemuda-pemuda tersebut dihujani dengan peluru senapan yang tidak terarah oleh pasukan Belanda lainnya sehingga mereka mengambil langkah mundur untuk menyelamatkan diri. Tak tanggung-tanggung sedikitnya sebanyak 42 Orang pasukan Belanda tewas ditangan pemuda Piladang dan salah satunya adalah petinggi Tentara Belanda. Selain itu, Kereta api juga mengalami kerusakan dan pasukan tentara bergegas memperbaikinya. Beberapa waktu kemudian setelah kereta api itu sudah membaik, tentara belanda yang masih selamat tersebut meneruskan perjalananya ke Bukit Tinggi serta dikawal pakai kendaraan berlapis baja.

Karena dipihak Belanda tak sedikit korban yang tewas termasuk salah seorang petingginya, maka sekitar jam 17.00 WIB Belanda mengirimkan beberapa pasukan menggunakan pesawat tempur untuk melakukan pengintaian lewat jalur udara di atas kawasan Akabiluru. kemudian jam 17.20 Pasukan tentara Belanda melakukan kekejaman dan keganasannya kepada rakyat dengan melepaskan tembakan membabi buta dengan Hotwizer selama 45 menit secara terus-menerus. Sebelumnya rakyat sudah tahu bahwa penghadangan di Titih menimbulkan banyak Korban Jiwa dipihak belanda, maka rakyat telah bersiap dan waspada terhadap kedatangan serangan pembalasan dari pihak Belanda.

baca juga   :
                   http://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/tigo-alua-piladang-dalam-memori-sejarah.html
                https://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/mengenang-kembali-am-rasyid-saleh-sang.html
                   https://sejarahkitominang.blogspot.com/2020/04/shalat-jumat-tetap-berlangsung-di.html

Untungnya serang yang bertubi-tubi dari Belanda tersebut tidak satupun yang sampai mengenai rakyat baik di Nagari Piladang, seberang Parit dan Titih. Tembakan tersebut hanya menyebabkan pohon-pohon tumbang dan terpotong-potong, jalanan berlubang dan seekor ternak mengalami luka ringan di Seberang Parit. Kejadian seperti ini tidak menyebabkan rakyat menjadi takut, malahan sebaliknya menimulkan masyarakat marah dan patriotisme yang sangat tinggi lebih-lebih pada kalangan Pemuda.

Keesokan harinya Rombongan Penerangan dari BPNK memberikan petunjuk kepada rakyat untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan ditempat pengungsian dan ditempat persembunyian yang dirasa aman dari pasukan tentara Belanda. sekitar jam 14.00 yaitu setelah kurang lebih lima jam BPNK memberikan pengarahan terhadap rakyat, tak lama kemudiaan rombongan tentara Belanda melepaskan tembakan disepanjang jalan raya mulai dari Titih sampai keperbatasan Piladang tepatnya di Ngalau Sampik, namun rakyat tetap dalam keadaan tenang* ISFHO YOUSE

SHALAT JUM'AT TETAP BERLANGSUNG DI PILADANG SAAT BELANDA MENYERANG

Kamis, 9 April 2020 M - 15 Sya'ban 1441 H

SEJARAHKITO.COM- Sehari setelah pembentukan dan pengumuman Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) tanggal 22 Desember 1948.  Selain Bukittinggi beberapa kota kecil di Sumatera juga di serang oleh Belanda, salah  satunya adalah Payakumbuh. Beberapa nagari yang dekat dengan Kota Payakumbuh diserang dari udara dengan pesawat Catalina sehingga mengakibatkan hancurnya beberapa fasilitas dan mengenai beberapa penduduk pada tanggal 23 Desember 1948.

Masjid Raya Piladang


Sebelumnya pada hari Minggu, 19 Desember 1948 sekitar jam 09.00 pagi terlihat tiga buah pesawat tempur milik pasukan tentara Belanda dengan sangat cepat dan begitu rendahnya menuju arah Piobang lalu melepaskan tembakan serta menjatuhkan Bom tepat Lapangan terbang Piobang Payakumbuh. 

Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Kapupaten Limapuluh, Anwar ZA (1993) Sebagai berikut: “tembakan dari pesawat udara yang dilancarkan Belanda mengenai dua buah bis yang bermuatan penuh: sebuah bis terkena tembakan di Nagari Piladang (arah barat kota payakumbuh) dan seluruh penumpangnya menjadi korban dan satu lagi di Batang Tabik juga mengorbankan seluruh penumpang bis . Semua korban itu diangkat ke RSU Payakumbuh dan dibaringkan di kamar jenazah,ada yang pontong badannya, pecah kepalanya, putus kaki dan sebagainya.

Pada 23 Desember tersebut sekitar jam 11.00 siang terlihat beberapa kendaraan serta Tank baja milik pasukan Belanda menggunakan senjata lengkap sampai di Simpang Batu Hampar. setelah itu, mereka langsung menembaki Rakyat dan ada juga yang selamat dari serangan tersebut bagi yang bisa meloloskan diri dengan cara bersembunyi. Lalu pasukan belanda kembali ke Posko mereka di Bukit Tinggi, namun tak lama kemudian sekitar jam 15.00 sore pasukan Belanda kemabali datang ke arah Payakumbuh dari Kota Bukitinggi. Melihat pasukan Belanda itu datang rakyat langsung pontang-panting lari untuk bersembunyi demi menyelamatkan diri. Pada malam harinya terlihat api yang sangat berkobar diarah Payakumbuh sekitar Jam 19.00. Lalu, setidaknya ada 13 orang pemuda Nagari Piladang berangkat menuju Payakumbuh untuk melakukan perang gerilya dengan membawa senjata seadanya yaitu bambu runcing.

gambar jama'ah serta anak-anak belajar mengaji di Masjid Raya Piladang

Keesokan harinya pada Jum'at, 24 Desember 1948 dalam keadaan yang sangat genting ditengah-tengah ancaman nyawa dari tentara Belanda sehingga Pasar Jum'at Nagari Piladang waktu itu terpaksa ditutup serta rumah-rumah warga harus di kosongkan dan ditinggalkan untuk menyelamatkan diri. Pada pelaksanaan Ibadah Shalat Jum'at walaupun Pasukan tentara belanda tetap berkeliaran menyerang warga dengan senjata Api dan Bom tapi tidak menyusutkan keimanan Masyarakat Nagari Piladang waktu itu mereka tetap melaksanakan Ibadah Shalat Jum'at di Masjid Raya Piladang. Walaupun diluar Masjid tentara Belanda masih saja melepaskan tembakannya kerumah-rumah warga. 

Sampai sekarang secerca sejarah pada hari Jum'at tersebut masih tertulis di dinding Masjid Raya Piladang dengan tujuan agar masyarakat tidak buta dengan sejarah. Apalagi, sejarah perjuangan mempertahan Negara Indonesia ini. Masjid Raya Piladang terletak di belakang pasar Jum'at Piladang sekitar 400 Meter dari pasar tersebut dibangun pada tahun 1879 M. Letusan bermacam ragam dari darat dan udara, tak dapat sambutan dari pihak kita. Tentera KNIL-KL Belanda menduduki Kota Payakumbuh tanpa perlawanan. PDRI dan Belanda pun ibarat berkejaran dengan maut. Tak lama setelah anggota petinggi PDRI melewati kota Payakumbuh, maka Belanda pun menguasai penuh kota Payakumbuh pada tanggal 24 Desember sore.

Keesokan harinya Pesawat Capung milik pasukan tentara Belanda tersebut masih terlihat terbang diatas Wilayah Nagari Piladang. Rakyat waktu itu masih bisa tenang karena pasukan tentara tersebut tidak melepaskan serangan tapi hanya melakukan pantauan. *Isfho Youse


sumber :
              http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-payakumbuh-diserang-23-desember-1948-pada-masa-agresi-belanda-ii/
                        Saleh. AM Rasyid/ Buku Piladang 1949/ Detik-detik bela Negara di Piladang pada masa Agresi Belanda

MENGENANG KEMBALI A.M RASYID SALEH SANG PENULIS BERITA HARIAN MPRN PILADANG PADA ZAMAN PERANG

Piladang, 8 April 2020 M
           14 Sya'ban 1441 H

SEJARAHKITOMINANG.COM-  sejarah tak luput dari ingatan maka butuh bagi kita untuk mengabadikannya baik dalam bentuk tulisan maupun dokumen lainnya. itulah, yang sudah dilakukan oleh A.M Rasyid Saleh sang Penulis Berita Harian MPRN Piladang yang mana pada masa itu beliau menjabat sebagai Sekretaris Wali Nagari dan BPNK Nagari Tigo Alua Piladang pada zaman perang yaitu di tahun 1949 M silam yang mana waktu itu Detik-detik bela Negara di Piladang pada masa Agaresi Belanda. 

Foto A.M RASYID SALEH Penulis Berita Harian MPRN Piladang



Sungguh anugerah Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan kepada AM RASYID SALEH untuk dapat menyimpan serta menyelamatkan catatan yang sangat berharga itu yang berisikan catatan harian kejadian disaat Agresi Belanda pada tahun 1949 M. Berita tersebut di tulis dalam bentuk surat kabar yang diberi nama MPRN Piladang. 

Setelah bertahun lamanya catatan itu nyaris hilang untungnya dapat ditemukan kembali oleh Nasrun Thahar, Dt. Mangindo Nan Kuniang pada tumpukan dokumen ayahanda beliau AS.Thahar Dt. Pangka Marajo yang mana beliau adalah Wali Nagari pertama di piladang pada tahun 1945-1949 saat itu beliau dikenal dengan Wali Nagari Perang Masa Agresi Belanda 1049.

Pada saat itu AM.Rasyid saleh menulis berita dengan tulisan ketikan lalu ditemukan dengan keadaan yang sudah lusuh.  Dalam Surat Kabar yang beliau tulis tersimpan sejarah demi sejarah setiap harinya, mulai dari 18 Desember 1948 sampai 17 April 1949. Semua sejarah tertuang secara asri menceritakan bagaimana waktu itu pasukan belanda menyerang Masyarakat Nagari Piladang, juga tercatat rumah-rumah siapa saja yang dibakar belanda serta sekian banyak Masyarakat yang dibunuh Pasukan Belanda. 

Sungguh, sejarah tersebut tidak dapat kita lupakan, karena kesungguhan kita dalam menjaga kampung halaman saat itu tidak bisa dipisahkan dengan perjuangan para pendahulu yang sudah memperjuangkan Tigo Alua Piladang waktu itu. demikian juga generasi saat sekarang ini harus banya belajar dari perjuangan para pejuang terdahulu yang berjuang dengan hati yang ikhlas bertaruhkan harta bahkan nyawa.

Sangat menyedihkan hati kalau diulang kembali pembacaan sejarah perjuangan pada masa itu sekurangnya ada puluhan rumah  yang dibakar serta puluhan orang yang meninggal dunia karena kekejaman Pasukan Tentara Belanda. 

Dalam buku yang penulis baca "PILADANG 1949" AM. Rasyid Saleh "Mencatat dengan teliti dan sepenuh hati" seperti beberapa orang pemuda yang syahid, beberapa rumah yang dibakar serta harta yang dirampas oleh Antek-antek Belanda, Beliau nukilkan dalam Surat Kabar atau berita MPRN Piladang tersebut. 

Berharap penulis kepada seluruh tetua yang mengetahui lebih tentang sejarah AM. RASYID SALEH agar menulisnya dalam kolom komentar blog ini agar dapat kita tuangkan kembali kepada para generasi kita.ADM

Tigo Alua Piladang Dalam Memori Sejarah

Piladang, 8 April 2020 M / 14 Sya'ban 1441 H


SEJARAH KITO MINANG,Piladang adalah sebuah Jorong yang terletak di Nagari Koto Tangah Batu Hampa, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat sekitar 3 Jam lebih kurang dari Kota Padang. Piladang yang lebih akrab disebut Tigo Alua Piladang (Tiga Alur) adalah suatu daerah yang langsung berbatasan dengan Luak Nan Tigo, Yaitu arah Selatan berbatasan dengan Luak Nan Tuo (Tanah Datar) dan sebelah Barat berbatasan dengan Luak Agam.

SOEMATERA TEMPO DOELOE: Pasar di Payakumbuh Piladang

Pasar Piladang Tempo Doeloe

(Dok. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVdET_wqGLcQUlaZnJy_3NdxtxcXBdBfUPV9v2efwwojeGtnJHXzuLSXUEAz-dSrk5AY8iBrxFZXCduoTcYl7jmtfYxVHrK7ZoSo54cNEDsMFQbqI2DT_OInwcDT9iQ4AmysepoPpGVR8/s1600/De+markt,+vermoedelijk+te+Pajakombo.JPG)

Lebih detailnya Piladang secara Geografis berbatasan disebelah Utara dengan Jorong Sungai Cubadak, sebelah Selatan berbatasan dengan Jorong Seberang Parit, sebelah Timur berbatasan dengan Balai Panjang Limbukan Kota Payakumbuh dan sebelah Barat berbatasan dengan Jorong KOto Baru Kenagarian Batu Ampa.

Banyak sejarah perjuangan masa lampau yang tertanam di Tigo Alua Piladang ini baik dalam sejarah perjuangan perang maupun perjuangan Agamanya yang semua itu sudah hampir tidak dikenal lagi oleh generasi yang ada pada saat sekarang ini. padahal, perjuangan pahlawan asli Putra Daerah Tigo Alua Piladang sangat berbekas hingga masyarakat saat ini dapat berdiam tinggal di Jorong Piladang tersebut. setidaknya ada dua orang pahlawan Asli Putra Daerah yang gugur pada masa penjajahan zaman Belanda dan jasadnya dimakamkan di Guguak Malintang.

Selain itu Pildang juga mencatat sejarah perjuangan keagamaan yang juga diperjuangan dengan kisah yang sangat tragis yang mana masyarakat pada saat mendirikan shalat jum'at di Masjid Raya Piladang namun diluar Masjid tentara Belanda masih menembakan peluru-peluru tajamnya kepada masyarakat. Tapi, dengan Iman yang kuat Masyarakat waktu itu masih mendirikan Ibadah Shalat Jum'at sampai selesai sehingga sejarah tersebut sampai saat ini masih tertulis di dinding Masjid Raya Piladang yang terletak di Lurah Sandiang belakang Pasar Jum'at Piladang.

Selain letaknya yang strategis Piladang juga mempunyai banya sarana umun diantaranya:

- 1 Buah Pasar induk di Kecamatan Akabiluru

- 1 Buah Lapangan Sepok Bola

- 3 Buah Masjid

    Masjid Raya (1879 M)

    Masjid Al Furqon (1980an M)

    Masjid An Nur (2019 M)

- 4 Surau

    Surau Al Hidayah Ateh Bonai

    Surau Muchlisin Tobek Godang

    Surau An-Nur Ateh Dama

    Surau An-Nur Malayu galanggang

- 5 Mushalla

    Mushalla Nurul Iman Aia Taganang

    Mushalla Nurul Huda Guguak Nunang

    Mushalla Nurul Falah Simpang

    Mushallah Baiturrahmah Goduang

    Mushallah Nurul Ikhlas Guguak Malintang

- 6 Sekolah

    TK Tunas Harapan Piladang

    MIS (Madrasah Ibtidaiyah Swasta)

    SDN 02

    SMPN 03

    MTsN 06

    SMAN 01

- 1 Eks Stasiun Kereta Api

- 2 Sarana Kesehatan

    Buah Puskesmas

    Poskesri

Semua yang ada di Tigo Alua Piladang saat ini sebahagian besarnya adalah perjuangan pahlawan serta tokoh-tokoh Asli Putra daerah masa lampau yang sampai sekarang nyaris sudah tidak dikenal lagi siapa pejuang dibalik itu semua. Semoga dengan catatan singkat ini dapat mengembalikan memori sekitar Tigo Alua Piladang untuk kembali dikenang oleh regerasi dimasa yang akan datang.

sejarah

PEMUDA PILADANG HANTAM TENTARA BELANDA, 42 ORANG TEWAS

Sabtu, 11 April 2020 M dikutip dari buku Piladang 1949 SEJARAHKITO.COM- Siapa sangka beberapa Pemuda berasal dari Piladang tidak bis...